Sirosis
hati adalah penyakit hati menahun yang mengenai seluruh organ hati, ditandai
dengan pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Keadaan tersebut terjadi
karena infeksi akut dengan virus hepatitis dimana terjadi peradangan sel hati
yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Kondisi ini menyebabkan
terbentuknya banyak jaringan ikat dan regenerasi noduler dengan berbagai ukuran
yang dibentuk oleh sel parenkim hati yang masih sehat. Akibatnya bentuk hati yang
normal akan berubah disertai terjadinya penekanan pada pembuluh darah dan
terganggunya aliran darah vena porta yang akhirnya menyebabkan hipertensi
portal. Pada sirosis dini biasanya hati membesar, teraba kenyal, tepi tumpul,
dan terasa nyeri bila ditekan.
Penyebab
sirosis hati beragam. Selain disebabkan oleh infeksi virus hepatitis B ataupun
C, juga dapat diakibatkan oleh konsumsi alkohol yang berlebihan, berbagai macam
penyakit metabolik, adanya gangguan imunologis , dan sebagainya. Di Indonesia,
sirosis hati lebih sering dijumpai pada laki-laki daripada perempuan.
Keluhan
yang timbul umumnya tergantung apakah sirosisnya masih dini atau sudah fase
dekompensasi. Selain itu apakah timbul kegagalan fungsi hati akibat proses
hepatitis kronik aktif atau telah terjadi hipertensi portal. Bila masih dalam
fase kompensasi sempurna maka sirosis kadangkala ditemukan pada waktu orang
melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh (general check-up) karena memang
tidak ada keluhan sama sekali. Namun, bisa juga timbul keluhan yang tidak khas
seperti merasa badan tidak sehat, kurang semangat untuk bekerja, rasa kembung,
mual, mencret kadang sembelit, tidak selera makan, berat badan menurun,
otot-otot melemah, dan rasa cepat lelah. Banyak atau sedikitnya keluhan yang
timbul tergantung dari luasnya kerusakan parenkim hati. Bila timbul ikterus
maka berhenti sedang terjadi kerusakan sel hati. Namun, jika sudah masuk
ke dalam fase dekompensasi maka gejala yang timbul bertambah dengan gejala dari
kegagalan fungsi hati dan adanya hipertensi portal.
Kegagalan
fungsi hati menimbulkan keluhan seperti rasa lemah, turunya barat badan,
kembung, dan mual. Kulit tubuh di bagian atas, muka, dan lengan atas akan
bisa timbul bercak mirip laba-laba (*spider nevi). Telapak tangan
bewarna merah (eritema palmaris), perut membuncit
akibat penimbunan cairan secara abnormal di rongga perut (asites), rambut ketiak dan
kemaluan yang jarang atau berkurang, buah zakar mengecil (atrofi
testis),
dan pembesaran payudara pada laki-laki. Bisa pula timbul hipoalbuminemia, pembengkakan pada
tungkai bawah sekitar tulang (edema pretibial), dan gangguan
pembekuan darah yang bermanifestasi sebagai peradangan gusi, mimisan, atau
gangguan siklus haid. Kegagalan hati pada sirosis hati fase lanjut dapat
menyebabkan gangguan kesadaran akibat encephalopathy
hepatic
atau koma hepatik.
Tekanan
portal yang normal antara 5-10 mmHg. Pada hipertensi portal terjadi kenaikan
tekanan dalam sistem portal yang lebih dari 15 mmHg dan bersifat menetap.
Keadaan ini akan menyebabkan limpa membesar (splenomegali), pelebaran pembuluh
darah kulit pada dinding perut disekitar pusar (caput
medusae),
pada dinding perut yang menandakan sudah terbentuknya sistem kolateral, wasir (hemoroid), dan penekanan
pembuluh darah vena esofagus atau cardia (varices esofagus) yang dapat
menimbulkan muntah darah (hematemesis), atau berak darah (melena). Kalau pendarahan
yang keluar sangat banyak maka penderita bisa timbul syok (renjatan). Bila penyakit akan
timbul asites, encephalopathy, dan perubahan ke arah kanker hati primer
(hepatoma).
Diagnosa
yang pasti ditegaskan secara mikroskopis dengan melakukan biopsi hati. Dengan
pemeriksaan histipatologi dari sediaan jaringan hati dapat ditentukan keparahan
dan kronisitas dari peradangan hatinya, mengetahui penyebab dari penyakit hati
kronis, dan mendiagnosis apakah penyakitnya suatu keganasan ataukah hanya
penyakit sistemik yang disertai pembesaran hati.
Pemeriksaan
laboraturium pada sirosis hati meliputi hal-hal berikut.
- Kadar Hb yang rendah (anemia), jumlah sel darah putih menurun (leukopenia), dan trombositopenia.
- Kenaikan SGOT, SGPT dan gamma GT akibat kebocoran dari sel-sel yang rusak. Namun, tidak meningkat pada sirosis inaktif.
- Kadar albumin rendah. Terjadi bila kemampuan sel hati menurun.
- Kadar kolinesterase (CHE) yang menurun kalau terjadi kerusakan sel hati.
- Masa protrombin yang memanjang menandakan penurunan fungsi hati.
- Pada sirosis fase lanjut, glukosa darah yang tinggi menandakan ketidakmampuan sel hati membentuk glikogen.
- Pemeriksaan marker serologi petanda virus untuk menentukan penyebab sirosis hati seperti HBsAg, HBeAg, HBV-DNA, HCV-RNA, dan sebagainya.
- Pemeriksaan alfa feto protein (AFP). Bila ininya terus meninggi atau >500-1.000 berarti telah terjadi transformasi ke arah keganasan yaitu terjadinya kanker hati primer (hepatoma).
Pemeriksaan
penunjang lainnya yang dapat dilakukan antara lain ultrasonografi (USG),
pemeriksaan radiologi dengan menelan bubur barium untuk melihat varises
esofagus, pemeriksaan esofagoskopi untuk melihat besar dan panjang varises
serta sumber pendarahan, pemeriksaan sidikan hati dengan penyuntikan zat
kontras, CT scan, angografi, dan endoscopic retrograde chlangiopancreatography
(ERCP).
(sumber:dokter-online.org)